Powered By Blogger

Rabu, 13 Oktober 2010

Pecinta Alam Weris Manado: Pengantar: Kisah hidup Hok Gie

Pecinta Alam Weris Manado: Pengantar: Kisah hidup Hok Gie

Pengantar: Kisah hidup Hok Gie

Ia mati muda, tapi di usianya yang relatif pendek itu, ia melakukan dan berbuat sesuatu yang luar biasa. Seluruh tulisan saya comot dari Majalah Femina.
hok-gie.jpgKetika Mira Lesmana dan Riri Riza menggarap film Gie, Soe Hok Gie, sudah 36 tahun terlelap dalam tidur abadinya. Buku hariannya Catatan Harian Seorang Demonstran sudah 10 tahun menghilang dari toko buku.

Wajar saja jika pertanyaan “Siapa Soe Hok Gie? akan dijawab orang berbeda-beda. Di mata mahasiswa ia adalah seorang demonstran tahun 60-an. Namun di mata pecinta alam dia adalah anak Mapala UI (Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia) yang tewas di Semeru tahun 1969.



MELAMUN DI ATAS GENTING
“Gila! Umur 14 tahun dia sudah baca bukunya Gandhi, Tagore (Rabindranath Tagore, filsuf India-Red). Saya mungkin perlu waktu 10 tahun untuk bisa mengejar, puji Nicholas Saputra tentang Gie.

“Saya sering mendapatinya asyik membaca di bangku panjang dekat dapur, kenang kakaknya, sosiolog Arief Budiman yang kini menetap di Australia. Kakak perempuannya Dien Pranata punya kenangan berbeda. Ketika anak-anak sebayanya asyik mengejar layangan, Gie malah nongkrong di atap genting rumah. “Matanya menerawang jauh, seperti mencoba menyelami buku-buku yang dibacanya.

Selain membaca, Gie juga suka menulis buku harian. Sejak usia 15 tahun, setiap hari, ia menulis apa saja yang dialaminya. Catatan harian pertamanya bertanggal 4 Maret 1957, ketika ia masih duduk di kelas 2 SMP Stada. Catatan terakhir bertanggal 10 Desember 1969, hanya seminggu sebelum kematiannya.


BERANI MENGKRITIK
Di zaman Gie, kampus menjadi ajang pertarungan kaum intelektual yang menentang atau mendukung pemerintahan Bung Karno. Sepanjang 1966-1969 Gie berperan aktif dalam berbagai demonstrasi. Uniknya ia tak pernah menjadi anggota KAMI, organisasi yang menjadi lokomotif politik angkatan 66.

Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya pada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media masa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung ketimbang menjadi anggota DPR-GR.

Sebagai anak muda, walaupun suka mengkritik dan doyan menyendiri, Gie ternyata sangat “gaul. “Penampilannya, biasa aja. Tapi kenalannya orang berpangkat dan nama-nama beken. Saya tahu, karena sering ikut dia. Misalnya saat ambil honor tulisan di Kompas atau Sinar Harapan. Nggak terbayang dia bisa kenalan dengan penyair Taufik Ismail dan Goenawan Mohamad! “, kata Badil.


TEWAS DI PUNCAK SEMERU
“Saya selalu ingat kematian. Saya ingin ngobrol-ngobrol, pamit, sebelum ke Semeru, begitu penggalan catatan harian Gie, Senin, 8 Desember 1969. Seminggu setelah itu, ia bersama Anton Wiyana, A. Rahman, Freddy Lasut, Idhan Lubis, Herman Lantang, Rudy Badil, Aristides Katoppo berangkat ke Gunung Semeru.

Siapa mengira, itulah terakhir kalinya mereka mendaki bersama Gie. Tanggal 16 Desember 1969, sehari sebelum ulangtahunnya ke 27 Gie dan Idhan Lubis tewas saat turun dari puncak karena menghirup uap beracun. Herman Lantang yang berada di dekat Gie saat kejadian melihat Gie dan Idhan kejang-kejang, berteriak dan mengamuk. Herman sempat mencoba menolong dengan napas buatan, tapi gagal.

Musibah kematian Gie di puncak Semeru sempat membuat teman-temannya bingung mencari alat transportasi untuk membawa jenazah Gie ke Jakarta. Tiba-tiba sebuah pesawat Antonov milik AURI mendarat di Malang. Pesawat itu sedang berpatroli rutin di Laut Selatan Jawa, Begitu mendengar kabar kematian Gie, Menteri Perhubungan saat itu Frans Seda memerintahkan pesawat berbelok ke Malang. “Saat jenasah masuk ke pesawat, seluruh awak kabin memberi penghormatan militer. Mereka kenal Gie!, kata Badil.

Jenasah Gie semula dimakamkan di Menteng Pulo. Namun pada 24 Desember 1969, dia dipindahkan ke Pekuburan Kober Tanah Abang agar dekat dengan kediaman ibunya. Dua tahun kemudian, kuburannya kena gusur proyek pembangunan prasasti. Keluarga dan teman-temannya, memutuskan menumbuk sisa-sisa tulang belulang Gie.

“Serbuknya kami tebar di antara bunga-bunga Edelweiss di lembah Mandalawangi di Puncak Pangrango. Di tempat itu Gie biasa merenung seperti patung, kata Rudy Badil.

Selasa, 12 Oktober 2010

Mistery Pendaki Pertama Mt. Everest

Awal tahun 2004 ini kembali muncul perdebatan mengenai First Climber on Everest. Apakah betul George Leigh Mallory (38) dan Andrew “Sandy” Irvine (22) telah mencapai puncak Everest pada Expedisi tahun 1924 itu.? Dua puluh delapan tahun lebih awal dari pendakian Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay yang saat ini masih tercatat sebagai pendaki Everest pertama (1953). Saya sendiri selama 3 tahun ini selalu menceri berita paling akhir mengenai keputusan final yang mungkin bisa merubah catatan sejarah pendakian manusia di puncak tertinggi dunia itu.
George Leigh Mallory memimpin team ketiga dari Inggris Raya bersama partnernya Irvine dan photographer Noel Odell pada 6 Juni 1924 berlabel nama The British Expedition 1924. Dengan membawa botol oxygen Asparratus cadangan mereka mendaki di musim moonson yang terkenal sangat berbahaya. Setelah dua hari pendakian, Odell yang memang tinggal di base tertinggi sempat melihat mereka mendaki pada sisi utara Everest, tapi pandangannya lalu terhalang awan dan cuaca yang selalu berubah-ubah. Itulah saat terakhir mereka terlihat hingga akhirnya hilang di telan salju abadi Everest.
75 tahun kemudian tepatnya ditahun 1999, Thom Pollard dari Everests Speakers Bureau mencoba memaparkan bukti-bukti kuat yang didapat dari Mallory & Irvine Research Expedition (MIRE 1999) dan meneliti posisi terakhir saat duo Pendaki Inggris tersebut hilang. Sejumlah geologist, ahli sejarah, pendaki serta sherpa terbaik turut tergabung dalam misi ini.
Jenazah Mallory ditemukan pada ketinggian diatas 27.000 kaki, membeku di bebatuan beberapa ratus meter sebelum puncak dari jalur utara. Di sekitarnya terdapat peralatan lain seperti Vest Pocket Camera (Kodak), Altimeter, Jam tangan, Pisau, Tali panjat, Botol oxygen dan Kacamata salju. Semua benda itu dikumpulkan lalu dianalisa secara teliti, sayangnya Team MIRE ini tidak menemukan rol film yang telah digunakan karena diduga Mallory terjatuh saat pendakian turun hingga mengalami patah tungkai kaki dan luka dikepala. Bukti kuat lainnya adalah kapak es milik Irvine yang ditemukan tahun 1933 serta beberapa kertas memo untuk Capt. Noel Odell, rekan satu teamnya yang terakhir melihat Mallory dan masih hidup sekarang. Melihat buku catatan pribadi yang masih utuh disaku Mallory, para peneliti semakin yakin bahwa Mallory telah menaruh foto istrinya Ruth setelah mencapai puncak seperti yang dituturkan sebelumnya kepada Odell, namun posisi ditemukannya Mallory yang tetap dirahasiakan.
Ekspedisi besar ini, akhirnya menjawab misteri pendaki pertama Everest serta pengakuan langsung bagi pendaki sekaliber Mallory. Eric Simonson Team Leader MIRE 1999 mengatakan “Mallory can from this day forward rest in peace” disertai senyum mengembang tanda keberhasilan Teamnya..
Seperti menjadi jawaban dari legenda kata2 Mallory “Because it’s there.. “